laga Spanyol vs portugal di piala dunia 2018

Cetak Gol Untuk Timnas Portugal, Pemain Ini Diyakini Diving

Salah satu andalan Timnas Spanyol, yakni Gerard Pique merasa kecewa dengan terciptanya gol pertama untuk Timnas Portugal. Pemain ini menilai jika gol itu didapat karena Cristiano Ronaldo sudah diving di wilayah terlarang Spanyol.

Seperti yang diketahui, laga krusial dari grup B telah mempertemukan dua tim favorit di Piala dunia 2018, yakni timnas Portugal dan timnas Spanyol. Dalam laga itu, Portugal sukses unggul lebih. Seleccao memperoleh penalti setelah Nacho Fernandez disebutkan menyerang Cristiano Ronaldo di wilayah terlarang.

Cristiano Ronaldo di timnas Portugal

Sergio Ramos sendiri merasa jika Portugal sepantasnya tidak bisa mendapat penalti karena Ronaldo sudah melakukan diving. Pique juga mengatakan jika Ronaldo dengan sengaja jatuh di wilayah penalti Spanyol yang menjadikan Portugal diberikan sepakan penalti sebagai hadiah.

Di waktu yang bersamaan, Pique menilai jika Spanyol sejatinya dapat memenangkan laga tersebut karena mereka bermain dengan begitu dominan selama laga. “Kami mempunyai kesempatan lebih banyak dari tim lawan kami. Mereka hanya menciptakan tiga sepakan tapi mereka mencetak tiga gol.”

Lebih lanjut, Gerard Pique mengatakan jika laga tersebut sejatinya menjadi laga mereka, karena Spanyol dapat mendominasi. Akan tetapi, keputusan wasit yang dinilai sepihak menjadikan tim mereka merasa kecewa dan melakukan protes hanya akan memperburuk kondisi.

Laga yang memainkan timnas Spanyol dan timnas Portugal tersebut akhirnya usai dengan hasil seri. Hattrick Cristiano Ronaldo sukses dikejar dari dua gol Diego Costa dan satu torehan Nacho Fernandez.

Masuk Ke Grup E, Timnas Swiss Siap Tampil Mematikan di Piala Dunia 2018

timnas swiss 2018

Timnas Swiss secara mengejutkan masuk ke babak selanjutnya di Piala Dunia 2018. Padahal sebelumnya, mereka harus tampil di babak playoff zona Eropa kontra Irlandia Utara. Sukses dengan skor tipis, 1-0, Swiss melangkah maju ke Rusia walau tetap disebut harus memperbaiki penampilannya di babak lanjutan nanti.

Walau berhasil masuk, timnas Swiss selama babak kualifikasi tak tampil dengan baik. Bahkan Tranquillo Barnetta dan penggemar Swiss cemas karena mereka terlihat rapuh saat melawan Irlandia Utara pada putaran kedua playoff akhir tahun lalu.

Keraguan pada pendukung memang tak berlebihan. Beberapa kali Irlandia Utara terlihat menyerang ke lini pertahanan Swiss. Hampir saja Irlandia menang, namun keberuntungan masih di pihak Swiss dan mereka memenangkan laga tersebut dengan susah payah.

Barnetta, gelandang dari St. Gallen memaparkan jika performa di liga domestik Swiss seharusnya memberikan hal baik untuk timnas. Selama ini, Swiss memang sudah memiliki prestasi yang saat mereka jadi tuan rumah di Piala Dunia 1934, 1938 dan 1954. Namun, selama tiga kompetisi tersebut, format piala dunia masih memakai yang lama.

Masuk ke format modern, Swiss seolah jadi tim buangan. Mereka terhenti di Piala Dunia 1994. Swiss kemudian tampil di Piala Dunia 2006 di Jerman, Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dan 2014 di Brasil.

Pelatih timnas yakni Vladimir Petkovic mengatakan jika perjuangan mereka masih sulit. Mereka harus kerja keras dan menjaga penampialn agar tampil tangguh di Piala Dunia 2018.

Timnas Swiss sendiri masuk di Grup E dengan timnas Brasil, timnas Kosta Rika dan timnas Serbia. Walau jadi tim unggulan di Piala Dunia 2018, Brasil ternyata bukanlah fokus utama Swiss. Petkovic mengatakan jika timnas Kosta Rika juga cukup berbahaya untuk timnya. Sementara timnas Serbia dihuni pemain berbakat. Itu sebabnya, persaingan di Grup E begitu sulit.

Berikut Kondisi dan Persiapan Terkini Neymar Jelang Piala Dunia 2018

persiapan Neymar di Piala Dunia 2018

Pemain Paris Saint-Germain, yakni Neymar Jr berupaya dengan keras agar tampil bugar jelang Piala Dunia 2018 mendatang. Sebelumnya, pemain termahal di dunia ini memag mengalami cedera parah yang membuatnya absen lama di klub.

Sekitar dua bulan yang lalu, Neymar menjalani operasi karena cedera tulang kaki yang patah. Saat ini, kondisi pemain ini sudah pulih dan kembali ke Perancis demi menjalani perawatan lebih lanjut.

Mantan pemain Barcelona tersebut memang mengakui ingin segera bermain dan kembali berlatih demi persiapan bersama timnas Brasil di Piala Dunia 2018 mendatang. Apalagi, dirinya merupakan salah satu andalan untuk timnasnya.

Pada Jumat kemarin, Neymar terlihat berada di bandara Le Bourget, Paris. Pemain timnas Brasil 2018 ini kemudian langsung pulang ke rumahnya di kawasan kota Paris. Rencananya, Ney akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut di tanggal 17 Mei yang akan datang.

Ney juga memastikan jika dia akan ikut dalam sesi latihan timnas yang dilaksanakan pada tanggal 21 Mei di dekat Rio de Janeiro. Keadaan pacar Bruna Marquezine tersebut memang sudah lebih baik. Dirinya bahkan tak perlu menggunakan kruk sebagai alat bantu berjalan.

Pemain yang sudah menciptakan 19 gol dengan Paris Saint-Germain itu begitu percaya diri optimistis bahwa ia bisa tampil dalam ajang Piala Dunia 2018.

“Saya berharap saya tak hanya akan menyaksikan Piala Dunia di TV. Saya memiliki waktu banyak dalam bersiap. Proses pemulihan cedera saya berlangsung dengan baik. Saya akan bermain dengan baik,” ujar Neymar.

Pemain termahal di dunia ini begitu percaya diri akan menjadi salah satu pemain timnas Brasil 2018 dan tampil di Rusia. Itu sebabnya, dia tak ingin menghabiskan waktu dengan hanya terbaring tanpa mempersiapkan diri.

Sementara itu, timnas Brasil di Piala Dunia 2018 masuk ke Grup E dan akan berlaga dengan timnas Swiss, timnas Kosta Rika, dan timnas Serbia.

Gabriel Jesus, Penyerang Andalan Timnas Brasil di Piala Dunia 2018

Gabriel Jesus, Penyerang Andalan Timnas Brasil di Piala Dunia 2018

Nama Gabriel Jesus semakin gencar disebutkan sebagai pemain lini depan timnas Brasil 2018. Dirinya bahkan menjadi pilihan dalam dua laga yang terakhir, saat mereka bermain di laga uji coba sebelum Piala Dunia 2018 melawan timnas Rusia dan Jerman di bulan Maret yang lalu. Pelatih Brasil, yakni Tite sepertinya sudah memberikan tempat tersebut pada pemain muda 21 tahun itu.

“Dia sangat gedit. Dia seperti binatang yang kuat,” papar Tite saat melihat performa Gabriel Jesus di timnas pada 2016 lalu. Saat itu, dirinya memang baru menjadi pelatih di empat laga timnas memasuki babak kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Amerika Selatan dan usai dengan hasil memuaskan. Dari empat laga, Jesus suskes menciptakan empat gol, padahal dia baru berumur 18 tahun.

Kemampuan pemain muda ini sepertinya memang sudah ada sejak kanak-kanak. Dibesarkan dalam Jardim Peri di Sao Paulo, Gabriel kecil tak langsung dapat latihan di lapangan sepak bola yang baik. Dia menghabiskan waktu berlatih dalam lapangan berdebu dan tak memadai. Pelatihnya saat itu, José Francisco Mamede, masih ingat penampilan pemain ini kala berlatih di lapangan itu untuk kali pertama.

“Ia datang dengan memakai sandal jepit. Berumur sekitar delapan tahun. Pada laga pertama, dirinya berhasil menciptakan gol dan membawa bola melewati tiga pemain yang lebih besar darinya. Dia memainkannya dengan baik dan gampang,” ujar Mamede.

Selain bakat, Mamede pun merasakan jika Gabriel bermain dengan telaten. Walau di lingkungannya banyak anak yang masuk ke pergaulan buruk, tapi dirinya bisa fokus dalam bermain bola.

Masih menurut Mamede, Gabriel dapat dikatakan tidak pernah melewatkan latihan atau laga. Dia selalu tampil, sebenarnya saat itu dirinya bersaing dengan 10 pemain yang lebih baik, namun karena keuletannya, akhirya Gabriel terpilih.

Pemain muda ini juga selalu mengingat lokasi berlatihnya sejak kecil. Ia menilai, di klub kecil Mamede tersebut, bola dimainkan sangat keras memang. Pasalnya, mereka berasal dari kalangan pemukiman padat penduduk. Bahkan, banyak dari mereka melakukan tackle demi mematahkan kaki dan merebut bola.

Akan tetapi, Gabriel mengaku beruntung dapat berlatih di klub tersebut. Dari sana, dia dapat memiliki karakternya sebagai pemain. Dengan semua bakatnya, dia kemudian berhasil masuk ke klub amatir, Associação Atlética Anhanguera saat remaja. Selama di sana, dia bermain dengan baik dan menciptakan 54 gol dari 48 laga. Di tahun 2013, klub Palmeiras kemudian membelinya. Dan berhasil masuk ke tim intinya.

Di Maret 2015 lalu, dia melaksanakan debut di tim tersebut. Pada musim awalnya, Gabriel sukses menciptakan empat gol dan tiga assist dari 20 kali penampilannya.

Selama musim keduanya, performa Gabriel kian apik. Dia sukses memperkuat Palmeiras merebut gelar juara Liga Brasil dengan catatan 12 gol dan lima assist dari 27 laga. Gelar tersebut merupakan prestasi terakhir untuknya di sana, sebelum kemudian pindah ke Manchester City.

Di tahun 2017,  dirinya memang gabung ke The City dengan harga 32 juta euro. Walau masih terbilang baru di sana, dirinya sudah menciptakan tujuh gol dan empat assist dari sembilan laga. Dan saat ini, memasuki musim keduanya, Gabriel sudah membawa tim meraih gelar juara Liga Inggris dengan catatan 11 gol dan tiga assist dari 25 laga. Ditambah dengan empat gol saat tampil di ajang Liga Champions.

Dengan segala kemampuan dan prestasi itu, wajar jika pelatih timnas Brasil, Tite memasukkannya di posisi lini depan Timnas Brasil 2018 dengan Neymar. Bersama timnas, Gabriel sudah membukukan sembilan gol dari 15 laga.

Timnas Brasil di Piala Dunia 2018 sendiri masuk ke grup E yang dihuni timnas Swiss, Kosta Rika, dan Serbia. Apakah prestasi mentereng kembali dicatatkan Gabriel Jesus dalam kompetisi di Rusia Juni nanti? Layak untuk kita tunggu.

Tiga Pemain Timnas Brasil yang akan Absen di Piala Dunia 2018

Piala Dunia 2018 tinggal sebulan lagi. Semua negara yang lolos ke Rusia pastinya sudah mempersiapkan diri dengan baik, tak terkecuali timans Brasil. Tim Samba sendiri merupakan unggulan karena terdiri dari pemain bintang, sampai-sampai sang pelatih yakni Tite dilema dalam menentukan siapa yang akan dibawa ke Rusia nanti.

Tite memang belum merilis skuad timnas Brasil 2018 final yang akan dimainkan di Rusia nanti. Dari 23 nama yang sudah dipersiapkan, masih ada delapan nama yang belum dimasukkan. Dengan banyaknya pemain andalan Brasil, pastinya akan ada nama lainnya yang tak akan masuk ke timnas Brasil di Piala Dunia 2018.

Berikut tiga pemain yang diprediksi tak absen di Piala Dunia :

  1. Danilo

skuad timnas Brasil 2018

Salah satu bek Manchester City ini sepertinya tidak akan masuk dalam skuad timnas Brasil 2018 oleh Tite. Alasannya karena Danilo selama musim ini tidak tampil gemilang. Dirinya diyakini akan kalah saing dengan Kyle Walker di lini kanan. Bahkan, dirinya juga harus bersaing dengan Fagner dan Rafinha jika ingin memperkuat timnas.

  1. David Luiz

skuad timnas Brasil 2018

Luiz sejatinya adalah salah satu pemain andalan Brasil selama ini. Tapi, tempatnya saat ini mulai diisi pemain lain. Sejak akhir 2017 lalu, dirinya sudah kesulitan menjadi starter di klub. Luiz jarang tampil dengan Chelsea apalagi setelah sering absen karena cedera. Tanpa Luis, Brasil akan memilih Thiago Silva, Marquinhos, serta Miranda.

  1. Alex Sandro

skuad timnas Brasil 2018

Sebenarnya, Alex Sandro masih tampil apik di klubnya, Juventus, tapi di timnas, dirinya seolah tak dianggap. Jarangnya Alex Sandro bermain sebagai bek kiri di timnas dikarenakan terlalu banyak saingan. Selama ini, Tite lebih memilih Marcelo dan Felipe Luis.

Brasil sendiri menjadi salah satu unggulan di Rusia nanti. Timnas ini mengisi Grup E dan akan melawan timnas Swiss, Serbi dan Kosta Rika. Laga Brasil VS Kosta Rika menjadi salah satu yang dinantikan di grup ini.

Paul Pogba Ganas di Timnas Perancis, Fans Pertanyakan Kinerja Jose Mourinho

Paul Pogba berselisih dengan Jose Mourinho

Performa mengesankan dari Paul Pogba kala memperkuat timnas Perancis menang atas timnas Rusia dengan skor 3-1 pada laga uji coba, akhir Maret yang lalu ternyata memberikan efek besar pada JOse Mourinho. Para fansnya banyak menyerang pelatih Manchester United tersebut.

Beberapa netizen memberikan serangan berupa sindiran pada Jose Mourinho yang menyebutkannya sebagai orang yang menjadikan bakat Paul Pogba menurun di Manchester United. Pemain berumur 25 tahun tersebut kini terpuruk bersama timnya karena selalu menjadi pemain cadangan.

Hal ini menjadikan hubungan Pogba dan Mourinho disebutkan sedang memanas. Mantan pemain Juventus tersebut berselisih dengan sang pelatih karena dinilai selalu membangkang aturan dari The Special One.

Akan tetapi, Pogba justru bermain begitu meyakinkan dengan perolehan satu gol dan assist kala bersama timnas Perancis kontra timnas Rusia beberapa waktu lalu. Sementara itu, dua gol Les Blues lainnya diciptakan oleh pemain Paris Saint-Germain yakni Kylian Mbappe.

Penampilan baik dari Pogba tersebut disorot banyak netizen dan mempertanyakan apa yang dilakukan Mourinho di Manchester United. Banyak dari mereka menilai pelatih ternama ini, bhakan membagikan informasi mengenai MU, dan memuji kualitas Pogba yang sepertinya dipandang sebelah mata oleh Mourinho dengan tidak mengikutkannya memperkuat timnya musim ini.

“Paul Pogba merupakan pemain ternama dunia. Pakailah bakatnya dan Anda sebagai pelatih akan memperoleh hasil maksimal. Jose Mourinho harusnya memberikan tempat untuk Paul Pogba dalam terlibat di timnya,” tulis salah satu netizen.

Memiliki Pemain berkualitas, pelatih timnas Prancis Malah Makin Kesulitan

Didier Deschamps, pelatih timnas Prancis

Piala Dunia 2018 di Rusia menjadi yang ke-15 untuk timnas Prancis. Dari 14 kali ikut di kompetisi ini, prestasi paling baik Les Bleus adalah saat mereka menjadi jawara di markas sendiri.

Kala itu, Kapten timnas Prancis pada perhelatan Piala Dunia 1998 silam, yakni Didier Deschamps membawa timnya menuju kesuksesan dan kini, dirinya menjadi pelatih Timnas Prancis dalam kompetisi bola dunia antarnegera pada tahun ini.

Sejak menjadi pelatih Prancis di tahun 2012 lalu, Didier Deschamps mempunyai catatan menarik. Timnas selalu berhasil dia bawa termasuk sampai babak perempat final di Piala Dunia 2014 dan semifinal Piala Eropa 2016 yang lalu.

Dengan materi pemain yang berkualitas dan berbakat di Prancis ternyata dapat menjadi dua sisi yang mematikan untuk Deschamps. Di satu sisi, dia dapat memajukan para pemainnya dengan kualitas tim namun lainnya, ternyata itu menyulitkan pelatih ini dalam menentukan siapa pemain yang akan dia turunkan untuk bermain di Rusia nanti.

Akan tetapi, berikut beberapa pemain andalan timnas Prancis yang sepertinya masuk dalam pilihan sang pelatih dan tentunya berpeluang besar menjadi bagian dari tim inti dalam Piala Dunia 2018 mendatang adalah Hugo Lloris, Raphael Varane, Paul Pogba, dan Antoine Griezmann.

Walau begitu, Didier Deschamps belum memberitahukan secara resmi siapa saja yang akan pemain inti dalam timnas mereka di Rusia nanti. Namun yang pasti, dirinya akan memilih yang terbaik demi keunggulan di Piala Dunia mendatang.

Dua Pemain Terbaik Timnas Prancis Ini Ingin Tampil di Satu Klub

Paul pogba dan antoine griezmann, pemain terbaik timnas Prancis

Dua pemain terbaik timnas Prancis, yakni Antoine Griezmann serta Paul Pogba sama-sama memiliki keinginan untuk dapat tampil di klub yang sama. Akan tetapi, Griezmann menampik jika dia akan pindah ke Manchester United.

Antoine Griezmann dan Paul Pogba yang kini merupakan dua pemain yang disorot jelang transfer pemain nanti sedang sibuk menjalani latihan dengan timnas Prancis jelang Piala Dunia 2018 mendatang.

“Saya memiliki keinginan untuk dapat berlatih bersama-sama tiap harinya,” papar Pogba. Perkataan dari pemain ini langsung direspon oleh Griezmann. Dia mengungkapkan jika hal tersebut akan sangan mengesankan. Namun, ini bukan berarti dirinya akan menjadi bagian dari Manchester United.

Pogba pun menjawab pernyataan teman setimnya tersebut, “Selama tahun bersama-sama, mendapatkan gelar juara. Saya rasa kami dapat merealisaikannya nanti.” paparnya.

Sekarang ini, Griezmann sedang bersama Atletico Madrid. Pemain yang pernah berkarir di Real Sociedad tersebut memang menjadi salah satu pemain yang diinginkan MU dalam bursa transfer yang lalu.

Akan tetapi, Griezmann saat ini kembali disebutkan akan segera hengkang dari Atletico. Akan tetapi, bukan MU yang saat ini mengincarnya, namun Barcelona.

Di sisi lain, Pogba yang merupakan pemain termahal di Manchester United. Tapi, saat ini statusnya di Old Trafford tak jelas apalagi di tambah dengan ketegangan hubunganya dengan sang pelatih, Jose Mourinho.

Pantas saja jika Timnas Prancis adalah satu-satunya tim yang membuat mereka dapat tampil bermain dengan total. Perbedaan umur yang hanya dua tahun juga menjadikan keduanya tak pernah tampil bersama di level junior.

Keduanya juga tak pernah berlaga dalam kompetisi dan negara yang sama. Semenjak memulai karir profesional di tahun 2009 silam, Griezmann selalu bermain untuk klub Spanyol. Semetara Pogba berada di klub Inggris dan klub Italia.

Di sisi lain, Paul Pogba dan Antoine Griezmann akan kembali kembali memperkuat timnas Prancis kontra timnas Denmark, Australia dan Peru dalam laga Piala Dunia 2018 di Rusia mendatang.

Berikut Jadwal laga Grup C di Piala Dunia 2018 Mendatang

Jadwal Laga Grup C piala dunia 2018

Perhelatan Piala Dunia akan segera dilaksanakan pada tanggal 14 Juni sampai 15 Juli 2018 yang akan datang. Jadwal Laga Piala Dunia 2018 akan segera disiarkan langsung oleh para stasiun TV Nasional dan Internasional nantinya.

Salah satu jadwal laga Piala Dunia 2018 yang begitu ditunggu adalah Grup C di Piala Dunia yang akan mempertemukan timnas Prancis, timnas Australia, timnas Peru, dan timnas Denmark. Grup ini akan mengawali laga di babak grup pada tanggal 16 Juni mendatang. Prancis merupakan timnas yang diprediksi akan menjadi jawara grup ini.

Tim Les Blues tersebut akan mengalawali laga dengan melawan timnas Australia pada tanggal 16 Juni pada pukul 17.00 WIB di Kazan Arena. Jelang kompetisi empat tahunan ini, Prancis sudah mepersiapkan diri dengan materi pemain yang tak perlu diragukan lagi serta hasil apik saat babak kualifikasi yang lalu. Tim Didier Deschamps tersebut hanya sekali gagal kala melawan Swedia. Timnas kemudian menjadi juara Grup A zona Eropa.

Di sisi lain, Australia akan bersiap melawan Prancis di laga pembuka grup C di Piala Dunia 2018 mendatang dengan persiapan yang tak kala matang. Australia sendiri masuk ke babak selanjutnya setelah sukses di fase play off kontra Honduras. Pada putaran kedua, Mile Jedinak membukukan hattrick dan membawa timnasnya suskes dengan skor agregat 3-1.

Di waktu yang sama, Peru juga akan melawan Denmark di Mordovia Arena. Laga Peru vs Denmark akan dilaksanakan pada pukul 23.00 WIB. Piala Dunia tahun ini memang menjadi yang kelima untuk keduanya.

Terakhir tampil, Peru ikut dalam Piala Dunia 1982 di Spanyol. Peru lolos ke babak selanjutnya setelah menang melawan timnas Selandia Baru di babak playoff. Senada dengan Australia dan Peru, timnas Denmark juga masuk ke Piala Dunia 2018 lewat fase playoff kontra Republik Irlandia. Pemain andalan mereka yakni Christian Eriksen membawa timnya melewati babak kualifikasi dengan catatan delapan gol dari 10 laga.

Berikut jadwal laga Piala Dunia 2018 untuk Grup C

16 Juni 2018 pukul 17.00 WIB: Perancis vs Australia, di Kazan Arena

16 Juni 2018 pukul 23.00 WIB: Peru vs Denmark, di Mordovia Arena

21 Juni 2018 pukul 19.00 WIB: Denmark vs Australia, di Samara Arena

21 Juni 2018 pukul 22.00 WIB: Perancis vs Peru, di Ekaterinburg Arena

26 Juni 2018 pukul 21.00 WIB: Denmark vs Perancis, di Stadion Luzhniki

26 Juni 2018 pukul 21.00 WIB: Australia vs Peru, di Stadion Fisht (sry)

Daftar Pelatih Legendaris Yang Mengubah Wajah Sepakbol

Untuk urutan pertama saya memilih Giovanni Trapattoni karena pelatih yang dikenal sebagai Mr. Trap merupakan salah satu pelatih dengan koleksi gelar terbanyak dalam sejarah.

Bersama Ernst Heppel, Il Trap sanggup memenangi titel liga di empat negara berbeda: Austria, Jerman, Italia dan Portugal.

Baginya, sebuah tim akan sukses jika memiliki kedisiplinan tinggi serta takkan terkalahkan apabila mempunyai lini pertahanan yang kuat dan bisa diandalkan.

Dia sudah membuktikannya bersama AC Milan, Juventus, Inter, Bayern Munich, Benfica serta Salzburg. Juventus bisa dibilang karier terbaiknya dengan enam gelar liga, dua Coppa Italia, dua Piala UEFA serta satu European Cup, Piala Winner, Piala Super Eropa dan Piala Interkontinental.

Dia adalah pondasi awal kesuksesan seorang pelatih di Manchester United. Sir Matt Busby telah membawa Red Devils lima kali memuncaki klasemen di kompetisi kasta tertinggi Inggris dalam dua periode, yaitu awal 50-an dan akhir 60-an.

Timnya waktu itu disebut the Busby Babes. Dinamakan demikian karena para anak buahnya yang mayoritas berusia muda, termasuk Bobby Charlton dan Duncan Edwards. Dia sukses mengantarkan United menuju era keemasan, tapi delapan pemain meninggal dalam tragedi Munich.

Sebuah trofi European Cup disabet United besutannya dengan menghantam Benfica 4-1 dalam partai final di Wembley pada 29 Mei 1968 silam.

Pria berdarah Austria ini menjadi pelatih pertama yang memenangi European Cup (Liga Champions) dengan dua klub berbeda, yaitu Feyenord pada musim 1969/70 dan Hamburg pada 1982/83.

Ernst Happel juga meraih gelar liga di empat negara berbeda, yakni Belanda, Belgia, Jerman dan Austria. Dia adalah penganut strategi menyerang yang dipadukan dengan pressure total terhadap lawan setiap kehilangan bola.

Salah satu prestasi terbaiknya adalah mengantarkan timnas Belanda ke partai final Piala Dunia 1978.

Helenio Herrera adalah pelatih yang melahirkan Grande Inter, tim Inter Milan yang menjuarai European Cup dan Piala Interkontinental secara beruntun pada 1964 serta 1965.

Il Mago (the Wizard) termasuk perintis penggunaan motivasi psikologis dalam sepakbola. Dia juga menerapkan disiplin ketat kepada para pemainnya, termasuk untuk urusan menjaga diet dan kebugaran.

Herrera telah memenangi 16 gelar bergengsi selama melatih Atletico Madrid, Barcelona, Inter dan AS Roma.

Rinus Michels adalah mastermind di balik salah satu gaya permainan sepkabola paling terkenal dalam sejarah, yaitutotal football.

Timnas Belanda menggunakan sistem itu pada era 1970-an. Satu-satunya pemain dengan posisi pasti adalah penjaga gawang. Bek, gelandang dan pemain depan semuanya bebas bertukar posisi untuk mengambil keuntungan dari ruang-ruang kosong yang ditinggalkan oleh lawan.

Johan Cruyff menerapkannya secara sempurna di atas lapangan, dengan Michels sebagai otak dari tepi arena.

Gaya melatih Cruyff pun terinspirasi olehnya yang merupakan salah satu anak didiknya.

Miguel Munoz merupakan pelatih terbesar dalam sejarah Real Madrid. Munoz menjadikan Real Madrid salah satu kekuatan terbesar di Eropa.

Dia melatih Madrid selama 16 tahun dan memenangi sembilan gelar La Liga. Belum ada pelatih lain yang sanggup menyamai masa kepelatihan maupun apa yang sudah dicapainya di ibu kota.

Pria Spanyol itu telah melatih sejumlah talenta terbaik di dunia, seperti Alfredo Di Stefano and Ferenc Puskas.

Bob Paisley menangani Liverpool dari 1974 hingga 1983, cukup waktu untuk membawa klub Merseyside itu ke level yang benar-benar baru.

Dia adalah pelatih tersukses dalam sejarah the Reds dengan persembahan 20 gelar, yaitu enam liga, tiga Piala Liga, enam Charity Shield, tiga European Cup/Liga Champions, satu Piala UEFA dan satu Piala Super Eropa.

Hingga kini, dia masih memegang rekor sebagai satu-satunya pelatih yang memenangi tiga trofi European Cup.

Paisley ahli dalam menggerakkan para pemain sesuai dengan sederet skenario berbeda yang ingin diterapkannya di atas lapangan. Faktor psikologis adalah elemen terpenting dalam strateginya, dan itu membuat dia bisa menarik kemampuan terbaik dari tim besutannya.

Paisley memenangi enam penghargaan LMA Manager of the Year: 1976, 1977, 1979, 1980, 1982 dan 1983.

Jika Anda menyukai Catenaccio, maka berterima kasihlah kepada Nereo Rocco. Pelatih Italia ini menciptakan sebuah sistem yang memfokuskan pada efisiensi barisan belakang. Tujuannya hanya satu, yakni mencegah lawan mencetak angka.

Rocco melakoni debut melatihnya bersama Triestina pada 1947. Secara mengejutkan, dia sanggup membawa mereka ke peringkat dua Serie A, yang hingga kini masih tercatat sebagai prestasi terbaik klub tersebut. Yang paling hebat, Rocco melakukannya dengan strategi Catenaccio sepanjang musim, yang membuatnya terkenal di seantero Eropa.

Sepak terjang itu membawa Rocco ke AC Milan, klub yang dibimbingnya menjuarai European Cup pada tahun 1963 dan 1969.

Prestasi impresif seorang Brian Clough adalah membawa Derby County dan Nottingham Forest promosi dari Second Division ke First Division.

Yang lebih hebat lagi adalah dia mampu memenangi kasta tertinggi Inggris bersama kedua klub tersebut.

Dia merupakan seorang pelatih yang menjunjung tinggi disiplin dan intuisi. Tim-tim asuhannya bermain tidak atraktif, tapi mereka menerapkan kekuatan dan kualitas fisik sebagai senjata utamanya.

Termasuk dalam deretan trofi persembahan Clough sebagai pelatih adalah empat Piala Liga serta dua European Cup, dan semua itu diraihnya bersama Nottingham.

Franz Beckenbauer merupakan salah satu pemain terbaik yang pernah ada, tapi Sang Kaisar juga tercatat sukses di tepi lapangan.

Hingga kini, dia adalah satu-satunya orang yang pernah memenangi Piala Dunia sebagai kapten dan pelatih, yaitu ketika turnamen itu digelar di tanah kelahirannya pada 1974 dan di Italia 1990.

Beckenbauer menekankan kepada para pemainnya agar selalu menikmati permainan dan tidak kebobolan satu gol pun dalam pertandingan.

Karisma dan kepemimpinannya sebagai pemain tak hilang meski berganti haluan menjadi pelatih, dan itu terbukti dengan keberhasilan dia membawa Marseille juara Ligue 1 pada musim 1990/91 serta mengantarkan Bayern Munich jadi kampiun Bundesliga 1993/94 dan Piala UEFA 1995/96.

Arrigo Sacchi (lahir di Fusignano, Italia, 1 April 1946; umur 66 tahun) adalah seorang pelatih sepak bola Italia, mantan pelatih utama Italia (1991-1996), dan dua kali manajer AC Milan (1987-1991, 1996-1997).

Sacchi tidak pernah menjadi pemain sepak bola profesional, dan sebelum menjadi pelatih ia adalah seorang penjual sepatu.

Sebagai manajer tim nasional Italia, Sacchi membantu Italia mencapai final Piala Dunia FIFA 1994, kalah dari Brasil melalui adu penalti. Pada tingkat klub ia cukup berhasil, terutama AC Milan. Dengan trofi domestik – memenangkan gelar di Seri A 1988, Piala Super Italia pada 1989 – berkembang menjadi sukses di tingkat Eropa : Piala Eropa pada tahun 1989 dan 1990, dan Piala Super Eropa dan Piala Interkontinental pada tahun 1990 dan 1991.

Sacchi juga berhasil Parma (1985-1987 dan 2001) dan Atlético Madrid (1998-1999). Pada Desember 2004 ia diangkat sebagai direktur sepak bola di klub raksasa Spanyol Real Madrid, menggantikan Jorge Valdano.
Jika ada yang bisa menunjukkan kepada dunia bahwa sepakbola itu atraktif, memikat dan menyenangkan, maka Johan Cruyff lah orangnya.

Sang legenda Belanda memberi nuansa baru dan berbeda di Barcelona. Sebuah filosofi permainan yang kemudian dikenal dengan sebutan tiki-taka, bentuk revolusioner dari skema total football. Gaya ini memfokuskan pada dua hal: operan pendek dan mobilitas pemain.

Strategi Cruyff sebenarnya cukup sederhana, yakni mengalirkan bola dengan beragam jalur operan, menguasai permainan, dan menusuk lewat setiap celah yang ada.

Dia memenangi Copa del Rey, La Liga, Supercopa de Espana, UEFA Super Cup dan Liga Champions.

Melatih sebuah klub selama 25 tahun tanpa putus bukanlah hal mudah, tapi Sir Alex Ferguson telah melakukannya di Manchester United dengan cara yang luar biasa.

Dia berlabuh di Old Trafford pertama kali tahun 1986. Dia harus menunggu hingga musim 1989/90 untuk meraih gelar perdananya, yaitu di ajang Piala FA dan Community Shield.

Ferguson merupakan sosok manajer yang memberi dukungan dan kepercayaan penuh kepada para pemainnya, tapi dia meminta mereka disiplin, baik di dalam maupun luar lapangan.

Banyak talenta hebat yang sudah dipolesnya, termasuk Wayne Rooney, Roy Keane dan Eric Cantona.

United telah melewati berbagai era, dan Ferguson mampu membimbing mereka melaluinya hingga dia menjadi pelatih tersukses dalam sejarah persepakbolaan Inggris dengan 12 gelar liga, dua trofi Liga Champions dan sebuah titel Piala Dunia Antarklub FIFA.

Dia juga terpilih oleh IFFHS sebagai Pelatih Terbaik Abad 21.

Strategi ofensifnya telah menjadikan Ottmar Hitzfeld salah satu pelatih tersukses dalam sejarah persepakbolaan Jerman dan internasional.

Bersama Ernst Happel dan Jose Mourinho, dia merupakan satu dari tiga pelatih yang sanggup memenangi European Cup/Liga Champions dengan dua klub berbeda.

Dalam melatih, Hitzfeld merupakan sosok yang menyukaispeed, tempo cepat, sentuhan bola secara konstan dan kerapatan antarlini, gaya yang telah diterapkannya bersama Swiss sejak 2008.

Penghargaan IFFHS World’s Best Club Coach pun pernah diraihnya dua kali, yakni pada 1997 dan 2001 silam.

Marcello Lippi mengantarkan Italia ke puncak dunia pada tahun 2006 dengan sebuah filosofi sederhana: tim harus menjadi satu kesatuan.

Sepanjang karier kepelatihannya, Lippi percaya bahwa sebuah skuad boleh saja memiliki sederet talenta luar biasa, tapi mereka takkan sukses tanpa mental dan kerjasama tim yang kuat. Oleh karena itu, formasi yang dia terapkan selalu didasarkan pada skill para pemainnya.

Lippi adalah pelatih pertama yang memenangi turnamen internasional paling prestisius dengan klub dan tim nasional, yaitu  Liga Champions dan Piala Interkontinental bersama Juventus pada tahun 1996 serta Piala Dunia 2006 bersama Azzurri.

Sebelum menangani Italia, Lippi pernah melatih lebih dari 10 klub berbeda, termasuk Juve, Inter, Napoli, Atalanta, Siena dan tim primavera Sampdoria.

Pada tahun 2007, The Times memasukkan nama Lippi dalam daftar 50 Pelatih Terbaik Sepanjang Masa.

Eks manajer timnas Inggris yang merupakan penganut loyal gaya defensif Italia, tapi kemudian menyeimbangkannya dengan permainan menyerang.

Capello menunjukkan kehebatan melatihnya sejak bersama AC Milan pada awal 1990-an, yaitu ketika dia memimpinRossoneri membukukan rekor 58 laga tanpa kekalahan di Serie A. Dia juga sosok yang dikenal sangat disiplin dalam melatih.

Pada 1996, Capello hijrah dari Milan ke Real Madrid, tapi gaya defensifnya membuat dia terlempar, lalu kembali ke Milan. Setelah itu, dia melompat ke AS Roma, Juventus, mendapatkan kesempatan kedua bersama Madrid, hingga berakhir di timnas Inggris.

Bersama Three Lions lah dia mengembangkan skema permainan baru yang menekankan pada operan dan sentuhan, yang membuat para gelandang di timnya bisa memaksimalkan kreativitas serta mengalirkan bola dengan lebih akurat.

Vicente del Bosque González adalah mantan pesepakbola asal Spanyol yang saat ini menjadi pelatih tim nasional Spanyol.

Sebagian besar karier kepelatihannya dihabiskan di Real Madrid. Del Bosque juga ditahbiskan sebagai pelatih paling sukses dalam sejarah klub ibukota Spanyol tersebut. Dia melatih Spanyol di arena Piala Dunia 2010.

Pada 11 Juli 2010, del Bosque menjadi pelatih pertama yang mengantarkan tim nasional Spanyol sebagai juara dunia setelah di partai final Piala Dunia mengalahkan Belanda dengan skor 1-0 lewat gol Andres Iniesta. Dan satu-satunya pelatih dalam sejarah Spanyol yang mengantarkan Spanyol meraih Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012.

Menahkodai Arsenal dari 1996. Sejak itu, Arsene Wenger sudah meraih tiga mahkota Premier League, empat titel Piala FA dan empat gelar Community Shield.
Pelatih asal Prancis ini dijuluki Le Professeur karena pendekatan sistematis, pengetahuan luar biasa tentang sepakbola, dan kemampuannya untuk berbicara dalam banyak bahasa.

Selama bertahun-tahun, Wenger dikenal sangat suka merekrut pemain-pemain yang kurang diperhitungkan, lalu menyulap mereka menjadi talenta berkelas dunia. Sederet nama, seperti Nicolas Anelka, Patrick Vieira, Thierry Henry dan Robin van Persie, telah mendunia di bawah tangan dinginnya.

Wenger adalah pria dengan masa kepelatihan terlama dan arsitek tersukses dalam sejarah the Gunners.

Jose Mourinho adalah salah satu pelatih paling kontroversial sepanjang sejarah sepakbola, tapi dia telah membuktikan kehebatannya bersama Real Madrid, Chelsea, Benfica, Porto, Uniao de Leira dan Inter Milan.

Pria Portugal yang mengklaim dirinya ‘special one’ ketika pertama kali diperkenalkan sebagai arsitek Chelsea pada tahun 2004 itu sanggup memotivasi para pemainnya untuk mengeluarkan semua kemampuan terbaik dalam diri mereka.

DIa berkeyakinan bahwa seorang pelatih harus menguasai banyak bidang, mulai persiapan tim hingga kepemimpinan, dan itu membuatnya menghasilkan rekor 150 laga kandang tanpa kekalahan dari Februari 2002 sampai April 2011.

Mourinho membawa Inter menjadi tim Italia pertama yang memenangi treble Serie A, Coppa Italia dan Liga Champions. Dia juga orang pertama yang menyabet penghargaan FIFA Ballon d’Or untuk kategori Pelatih Terbaik.

Bersama Los Merengues, Mourinho menyabet mahkota Copa del Rey 2010/11, La Liga 2011/12 dan Supercopa de Espana 2012.

Pelatih tersukses dalam sejarah Barcelona dengan 14 trofi dalam empat musim.

Strategi tiki-taka telah mengalir dalam darahnya. Josep Guardiola lalu menciptakan tim yang setiap lininya memahami taktik tersebut secara sempurna.

Ketika pertama kali menangani tim utama Blaugrana, Guardiola melepas sejumlah pemain yang tidak masuk dalam rencananya, seperti Ronaldinho, Samuel Eto’o serta Deco, dan membentuk skuad dengan mayoritas pemain dari La Masia. Alhasil, pada akhir musim pelatih yang memulai debut profesionalnya sebagai pelatih pada musim yang sama berhasil menggondol 6 trophy major yang diselenggarakan di di liga domestik 1, piala raja 1, piala super spanyol 1,uefa champion league 1, uefa super cup 1, dan fifa piala dunia antar klub 1.

Salah satu kelebihan Guardiola adalah kemampuan dalam memotivasi para pemainnya.

Dia dianugerahi penghargaan FIFA Ballon d’Or sebagai Pelatih Terbaik pada tahun 2011 karena dalam kiprahnya yang masih hijau Guardiola berhasil merebut 14 gelar sampai 2011.